PELAKOR DARI SUDUT PANDANG PSIKOLOGI
Agen Bandar QQ - Akhir-akhir ini, di media sosial dipenuhi dengan
istilah pelakor. Istilah tersebut ramai setelah menyebarnya video dan
berita salah seorang artis tanah air dicap sebagai pelakor. Otomatis
Masyarakat atau netizen terutama wanita merasa khawatir dengan
keberadaan pelakor. Namun, tidak sepatutnya juga jika kita seenaknya
mencap seseorang sebagai pelakor dan malah menimbulkan fitnah.
Konselor
dan terapis dari Biro Konsultasi Psikologi Westaria, Anggia Chrisanti
menjelaskan ada beberapa kesalahan nyata sehingga seseorang rentan dan
dengan mudahnya dicap sebagai pelakor. Pelakor atau valakor adalah
istilah untuk seseorang yang merebut pasangan lelaki atau suami orang
lain. Berikut ini ciri-cirinya (Dikutip dari Tempo.co):
1. Diduga memiliki kedekatan spesial dengan pasangan, khususnya suami, orang lain, baik terkait pekerjaan maupun tidak.
2. Banyak ditemukan bukti dan saksi kebersamaan, bahkan di luar kepentingan pekerjaan.
3. Bukti pembicaraan melalui telepon atau chating
yang dianggap tidak biasa. Misalnya, terlalu sering dan atau dengan
bahasa atau panggilan yang dianggap tidak biasa, dan atau dengan konten
yang tidak seharusnya, terlalu perhatian atau terlalu vulgar.
4.
Ditemukan beberapa pemberian barang, baik barang sungguhan maupun bukti
transfer uang dalam jumlah dan intensitas yang tidak biasa.
5.
Kedekatan berbanding lurus dengan munculnya informasi keretakan rumah
tangga seseorang yang sedang dekat dengan orang tersebut. Terlebih jika
sampai berpisah.

Apa yang menyebabkan seseorang menjadi Pelakor?
Perbuatan yang dilakukan oleh pelakor tersebut sama halnya dengan perbuatan curang (cheating). Cheating
adalah berbuat tidak jujur atau curang yang bertujuan untuk memperoleh
keuntungan secara sepihak, misalnya mencontek saat ujian, korupsi, dan
perselingkuhan.
Menurut Mellisa Grace, M.Psi., Psikolog, ada beberapa alasan yang membuat seseorang dapat melakukan cheating, antara lain:
1. Faktor Individual
Karakteristik
kepribadian individu yang manipulatif. Karakteristik manipulatif adalah
kecenderungan individu untuk memanfaatkan atau memanipulasi situasi
untuk memperoleh kepentingan pribadi.
Karakteristik kepribadian
individu yang kurang memiliki rasa empati kepada orang lain. Empati
adalah kemampuan individu untuk merasakan, memahami dan melihat sudut
pandang orang lain. Jika individu memiliki rasa empati yang kurang maka
ia tidak akan mampu merasakan bahwa ada pihak-pihak yang dirugikan dari
perilakunya.
Karakteristik kepribadian individu yang narcissistic. Karakteristik narcissistic
adalah perasaan diri yang berlebihan, sehingga individu merasa bahwa
dirinya yang paling hebat, paling berkuasa, paling cantik atau tampan,
paling pantas memperoleh perlakuan istimewa, padahal sesungguhnya
perilaku narcissisticmerupakan bentuk kompensasi dari perasaan rendah diri (low self-esteem) yang dimiliki oleh individu.
Ketidakmampuan
individu bersikap asertif. Sikap asertif adalah kemampuan berkomunikasi
secara terbuka mengenai pikiran dan perasaannya kepada orang lain tanpa
menyakiti dirinya dan orang lain. Individu yang tidak mampu bersikap
asertif seringkali menggunakan cheating sebagai bentuk tindakan untuk mengekspresikan kekesalannya, amarahnya, dan dendam kepada orang lain.
2. Faktor Situasional
Individu yang melakukan cheating
telah terbiasa atau belajar tidak terlalu mementingkan nilai-nilai
kejujuran dari sebuah situasi. Hal ini dapat terjadi ketika individu
dibesarkan dalam lingkungan yang kurang menekankan pentingnya
nilai-nilai kejujuran.
3. Adanya Keuntungan Sekunder
Individu menganggap bahwa perilaku cheating
lebih mendatangkan banyak keuntungan dibandingkan berperilaku jujur.
Misalnya dengan berperilaku curang, beberapa orang merasa lebih cepat
memperoleh status sosial, lari dari tanggungjawab, lebih memperoleh
perhatian, lebih cepat kaya, dan sebagainya.
Parahnya, para
pelakor tersebut berusaha menyalahkan pasangan atau korbannya untuk
melepaskan diri dari tanggungjawab atas perilakunya sendiri. Padahal
perilaku cheating atau selingkuh tidak pernah disebabkan oleh faktor karakteristik korban.
Apakah perilaku cheatingbisa disembuhkan?
Pola perilaku cheating tersebut
akan cenderung menetap dan berulang, meski bentuk perilakunya bisa
berbagai macam, tidak selalu selingkuh. Perilaku cheating bisa
disembuhkan atau akan berhenti jika muncul keinginan untuk berubah dari
diri individu tersebut. Lebih lanjut, pelakor yang ingin berubah dapat
meminta bantuan atau berkonsultasi ke psikolog atau para ahli
dibidangnya. - SAHABAT QQ
<> Contact Us <>
Fanspage FB : Sahabat QQ
Pin BB : 2BCD6D81
Pin BB : 2BD6A2E3
WA : +855-81734021
LINE : SAHABATQQ2
WECHAT : SAHABATQQ
INSTAGRAM : SAHABATHOKI
YM : cs2_sahabatqq@yahoo.com
Kami Siap Melayani anda 24 jam Nonstop
Fanspage FB : Sahabat QQ
Pin BB : 2BCD6D81
Pin BB : 2BD6A2E3
WA : +855-81734021
LINE : SAHABATQQ2
WECHAT : SAHABATQQ
INSTAGRAM : SAHABATHOKI
YM : cs2_sahabatqq@yahoo.com
Kami Siap Melayani anda 24 jam Nonstop

Comments
Post a Comment